18 Tahun Kasus Pembunuhan Munir Tak Temui Titik Terang, Peretas Bjorka Beberkan Kronologi Kematian Versinya

- 12 September 2022, 18:06 WIB
Pendiri KontraS, Munir.
Pendiri KontraS, Munir. /Tangkapan layar Instagram @Museum_ham_munir /

CerdikIndonesia - Indonesia tengah dihebohkan oleh kemuncuran peretas (Hacker) dengan nama panggung Bjorka. 

Bagaimana tidak? 18 Tahun sudah kasus pembunuhan Munir tidak temui titik terang. Kali Bjorka mengaku mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan Munir.

Bjorka tidak satu kali membuat keramaian, beberapa waktu yang lalu ia meretas laman Pertamina hingga kontak personal milik Menteri Komunikasi Indonesia.

Baca Juga: Dampak Kematian Ratu Elizabeth II: PM Selandia Baru Mengatakan Tidak Ada Rencana Republik Setelah Kematian Rat

Kali ini Bjorka kini membeberkan dalang di balik kasus pembunuhan Munir.

Bjorka melampirkan tautan pada cuitannya di Twitter yang berisi klaim profil pembunuh Munir serta kronologi kejadian.

"Yea I know you guys have been waiting for this. So, who killed this good man? (Ya aku tahu kalian telah menunggu ini. Jadi, siapa yang membunuh pria baik ini?)" kata Bjorka seperti yang dikutip oleh Cerdik Indonesia dari akun Twitter @bjorkanism pada 11 September 2022.

Dirinya menyebutkan bahwa pembunuh Munir bernama Muchdi Purwopranjono yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Berkarya.

"I will give you a name if you ask who was behind Munir's murder. He is Muchdi Purwopranjono who currently serves as Chairman of the Berkarya Party (Aku akan beri sebuah kalian nama jika kalian tanya siapa di balik pembunuhan Munir. Dia adalah Muchdi Purwopranjono yang kini sedang menjabat sebagai Ketua Umum Partai Berkarya)," kata Bjorka melalui cuitannya di Twitter.

Baca Juga: Dampak Kematian Ratu Elizabeth II: PM Selandia Baru Mengatakan Tidak Ada Rencana Republik Setelah Kematian Rat

Begini kronologi pembunuhan Munir menurut Bjorka.

Munir yang merupakan koordinator KontraS yang sangat vokal itu berhasil mengungkapkan bahwa Tim Operasi Mawar adalah pelaku penculikan 13 aktivis pada periode 1997-1998.

Akibatnya, Muchdi Purwopranjono harus diberhentikan dari jabatan barunya selama 52 hari.

Hal itu menyebabkan Muchdi menjadi tidak menyukai Munir, dikutip Cerdik Indonesia dari Twitter Bjorka.

Pada 27 Maret 2003, Muchdi diangkat menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Deputi V.

Bjorka mengklaim bahwa posisi tersebut membuka banyak peluang untuk menghentikan aktivitas Munir yang dianggap telah merugikan Muchdi.

"A position that opens up many opportunities to stop the activities of the victim of the late Munir that has harmed the defendant (Posisi yang membuka banyak peluang untuk menghentikan aktivitas korban Munir yang telah merugikan terdakwa)," tutur Bjorka.

Muchdi disebut menggunakan jaringan non-organik BIN yakni Pollycarpus Budihari Priyanto sebagai pilot PT Garuda Indonesia Airways untuk membunuh Munir.

Saat itu, diketahui Munir akan terbang ke Belanda menggunakan Garuda Indonesia untuk studi lanjut.

Pollycarpus membuat surat rekomendasi kepada PT Garuda Indonesia Airways untuk ditempatkan di bidang Corporate Security.

Hal itu pun sempat ditanyakan oleh Budi Santoso untuk apa dirinya ditempatkan pada bagian tersebut.

Baca Juga: Cara Menghemat BBM bagi Kendaraan Bermotor, Kesalahan ini Ternyata sering Dilakukan

Pollycarpus sebenarnya tidak menjelaskan maksud aslinya, namun beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk berterus terang bahwa dirinya mendapat tugas dari Muchdi untuk membunuh Munir.

Surat tersebut ditandatangani dan dimasukkan ke dalam amplop BIN bernomor R-451/VII/2004 yang kemudian diserahkan Pollycarpus kepada Indra Setiawan, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Airways.

Pollycarpus sebelumnya memastikan keberangkatan Munir dengan menelepon istri Munir yang bernama Suciwati.

Ia menjawab keberangkatan akan dilaksanakan pada Senin, 6 September 2004 dengan nomor penerbangan Garuda Boeing 747-400 GA-974.

Setelah berhasil satu pesawat, Pollycarpus membawa Munir ke Coffee Bean melalui Gate 42 saat mendarat di Bandara Changi Singapura.

Saat Munir menunggu Pollycarpus yang memesan dua minuman, ia tak mengetahui bahwa salah satunya telah diberikan racun arsenik.

Kemudian, Munir dinyatakan meninggal dua jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol Amsterdam, Belanda.

Berdasarkan hasil autopsi otoritas Belanda, tubuh Munir mengandung 3,1 milligram racun arsenik. (Shafira Meiriska Putri)***

Editor: Yuan Ifdal Khoir


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x